I. PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Alumunium merupakan salah satu unsur hara
penunjang yang dapat menyebabkan keracunan tanah di sekitar perakaran tanaman
sehingga dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Menurut Foy
dalam Rout et al. (2001), Al menyebabkan terganggunya
pembelahan sel pada tudung akar dan akar lateral dan menyebabkan peningkatan
rigiditas sel melalui pembentukan ikatan silang pektin pada dinding sel, serta
mereduksi replikasi DNA melalui peningkatan rigiditas rantai ganda.
Aluminium (Al) merupakan unsur ketiga penyusun
lithosfer setelah oksigen dan silika, yaitu 15%. Dalam struktur liat, Al dan Si
merupakan unsur-unsur inti penyusun lempeng pertama dan
keduanya. Dalam lempeng tetrahidral liat, 15% situs diduki Al dan sisanya
(85%) diduduki Si yang keduanya bergabung melalui ikatan oksigen (Hanafiah
2010).
Alumunium yang terdapat di dalam larutan tanah
pada umumnya dijumpai dalam berbagai bentuk seperti Al(OH)2+ dan Al(OH)2+ pada
pH tanah sekitar 4—5, Al3+ pada pH 5,5—7, dan Al(OH)4- pada pH 7—8. Kompleks
ion lainnya seperti Al4Al12(OH)24(H2O)127+(Al3) dan Al3+ hampir dipastikan
selalu bersifat meracuni, namun tidak terdapat rhizoktisitas akibat AlSO4+ dan
Al(SO4)2- atau Al-F seperti AlF2+ dan AlF2+. Status Al(OH)2+ dan Al(OH)2+ tidak
menentu pada setiap percobaan tapi berindikasi sebagai keracunan Al-OH
(Kinraide, 1997). Jenis Al yang bersifat meracuni pada perakaran tanaman gandum
dari hasil percobaan Pietraszewska (2001) menunjukkan bahwa
AlF2+<AlF2+<All3+<Al13. Selanjutnya Kochian (1995) berpendapat bahwa
sifat racun hanya terdapat pada Al13 dan All3+. Hal yang menarik dijumpai bahwa
tanaman memiliki mekanisme sendiri dalam mengurangi pengaruh negatif Al.
Berdasarkan analisis kimiawi pengaruh dari Al tersebut menyebabkan terjadinya
peningkatan kandungan pektin dan hemiselulosa.
Di Indonesia pemanfaatan dan pembukaan tanah
dilahan kering umumnya pada Ultisol dan mungkin Oxisol. Permasalahan
pada Ultisol dan Oxisol adalah reaksi tanah yang masam, kandungan Al yang
sangat tinggi, dan unsur hara yang rendah, sehingga diperlukan pengapuran dan
pemupukan serta pengelolaan yang baik (Hardjowigeno 1995; Satari 1997).
Ultisol adalah tanah berwarna merah kuning
yang sudah mengalami proses
hancuran iklim yang sudah lanjut, basa-basanya tercuci sehingga
tanah bereaksi masam dan memiliki kejenuhan Al yang tinggi (Subagyo et
al. 2000).
Permasalahan pada tanah yang bersuasana
masamdapat ditanggulangi dengan pemberian kapur (Soepardi 1982). Sumber
kemasaman tanah yaitu Al dapat ditekan dengan pengapuran dan atau dengan
pengembalian sisa tanaman ke dalam tanah tersebut (Wahjudin 1993).
1.2. Tujuan
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk
mempelajari pengaruh unsur Aluminium (Al) pada tanaman dan cara penangannya.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Aluminium
merupakan unsur hara penunjang yang tidak dibutuhkan tanaman, sebab unsur ini
dapat bersifat toksik. Aluminium memiliki karakter penyediaan dan penyerapan
mirip dengan unsur hara mikro, yaitu tanpa zona serapan mewah sehingga dalam kadar
sedikit berlebihan sudah menjadi racun. Sedangkan apabila Al tidak tersedia
dengan cukup di tanah, maka tanaman akan mengalami hambatan dalam
perkembangannya, dimana pertumbuhan bunga dan buah tanaman akan terlihat tidak
optimal.
Berikut
tabel mineral-mineral silikat yang memiliki kadar Al tinggi sebagai sumber Al
tanah:
|
Kelompok
|
Mineral Silikat
|
Rumus Kimiawi
|
|
Mineral primer:
Feldspar
Piroksin
Amfibol
Mika
Mineral sekunder:
Mineral liat
|
Otholaks
Na-Plagiolaks
Ca-Plagiolaks
Augit
Hornblend
Biotit
Muskovit
Kaolinit
Montmorillonit
Illit
Vermikulit
Klorit
Dickit
Nacrit
|
KAISi3O8
NaAlSi3O8
CaAl2Si2O8
Ca2(Al,Fe)4(Mg,Fe)4Si6O24
Ca,Al,Mg,Fe,Si8O22(OH)2
KAl(Mg. Fe)3Si3O10(OH)2
KAISiO(OH)
Al4Si4O10(OH)8
(Al, Mg)4Si8O20(OH)4
Al4Si7AlO20(OH)4Mg.H2O
Mg6Si7AlO20(OH)4MgH2O
MgSi8Al2O20(OH)Mg6(OH)12
Si4Al4O10(OH)8
Si4Al4O10(OH)8
|
Dari tabel terlihat bahwa mineral primer dan sekunder tersusun
oleh utama yaitu Al dan Si yang secara struktural dikelilingi oleh oksigen,
kecuali mineral primer kelompok feldspar, sedangkan yang lainnya mengalami
hidrasi (penambahan ion-ion H). Kelompok mineral sekunder inilah
yang menentukan sifat kimiawi tanah-tanah mineral (Hanafiah 2010).
Tanah
yang masam mencirikan banyaknya jumlah Al yang terkandung di dalam tanah,
sehingga untuk menetralkan pH rendah pada tanah ini dapat dilakukan dengan
pengapuran dan penggunaan pupuk organik. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Wahjudin (1993) yang mengatakan bahwa sumber kemasaman tanah adalah unsurAl
yang dapat ditekan tingkat kemasamannya dengan cara pengapuran atau
dengan pengembalian sisa tanaman ke dalam tanah.
Di
Indonesia tanaman pangan yang diusahakan umumnya adalah padi, jagung, kedelai
dan kacang tanah. Di dalam tanah bahan organik dapat mengikat senyawa atau
unsur yang bersifat racun (Al, Fe, Cd dan Hg) terhadap tanaman, bahan organik
penting karena dapat bereaksi dengan ion logam yang kemudian membentuk senyawa
kompleks (Karama dan Darmijati 2003).
Kelarutan
Al dalam tanah berkaitan erat dengan pH tanah. Kelarutan Al minimum dalam
larutan encer terjadi pada pH 6-7. Pada larutan tanah, kelarutan Al maksimum
terjadi pada pH 4,06 dan minimum pada pH 7,23. Apabila pH tanah dinaikkan
melalui pengapuran, ion hidroksil akan bereaksi dan mengendapkan Al yang larut.
Kation Al menempati tanah mineral yang memilii pH <5,0 yang sebagian besar
situs koloidnya bermuatan negatif (Hanafiah 2010).
Mensvoort
dan Dent (1998) menyebutkan bahwa senyawa pirit (ferit) tersebut merupakan
sumber masalah pada tanah tersebut. Selain itu jika tanah ini dikeringkan atau
teroksidasi, maka senyawa pirit akan membentuk senyawa feri hidroksida Fe(OH)3
sulfat SO42- dan ion hidrogen H+ sehingga tanah menjadi sangat masam. Akibatnya
kelarutan ion-ion Fe2+, Al3+ dan Mn2+ bertambah di dalam tanah dan dapat
bersifat racun bagi tanaman. Ketersediaan fosfat menjadi berkurang karena
diikat oleh besi atau aluminium dalam bentuk besi fosfat atau aluminium fosfat.
Biasanya bila tanah masam kejenuhan basa menjadi rendah, akibatnya terjadi
kekahatan unsur hara di dalam tanah (Putu dan Widjaya 1990).
Toleransi
tanaman terhadap kelarutan Al dipengaruhi oleh spesiesnya. Menurut Kamprath dan
Foy (1985) secara umum jagung (Zea mays) adalah tanaman yang paling
tolerans terhadap Al, sedangkan kelompok tanaman yang berketahanan
sedang yaitu kapas (Gossypium hirsutum L.), kedelai (Glycine
max merril L.), lobak (Raphanus sativusL.), kubis (Brassica
oleracea), dan gandum, sedangkan kelompok tanaman yang sensitif terhadap
Al-larut yaitu selada (Latuca saiva), jelai (Hardeum vulgare L.),
dan bit gula.
III. PEMBAHASAN
Aluminium
merupakan unsur hara penunjang yang bersifat toksik bagi tanaman.
Unsur Al dapat mengikat unsur P, Ca, K, dan Mg sehingga tidak tersedia dengan
optimal bagi tanaman, akibatnya pertumbuhan dan perkembangan tanaman terhambat.
Salah satu dampaknya yaitu tanaman tidak dapat menghasilkan produksi yang
memiliki kualitas dan kuantitas baik. Pada tinjauan pustaka dari berbagai
literatur dibahas mengenai pengaruh negatif Al terhadap tanaman, sebab
keberadaan Al yang berlebihan sangat berpengaruh terhadap keoptimalan unsur
hara lain dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Menurut
Hanafiah (2010), pada kondisi masam Aluminium akan tertarik keluar struktur
liat (seperti montmorillonit) dan menduduki muatan-muatan negatif
yang kosong tersebut. Aluminium dapat ditukar (Aldd) ini diabsorbsi
sangat kuat oleh koloid, tetapi berada dalam keseimbangan denan ion-ion Al
dalam kelarutan tanah. Hidrolisisi Al ini menghasilkan Al-hidroksida dan
ion-ion H pengasam tanah :
Al3+ +
H2O AlOH2+ + H+
AlOH2+
+ H2O Al(OH)2 +
H+
Al(OH)2 + H2O Al(OH)3 + H+
Oleh sebab itu sumber utama ion-ion H pada tanah masam
sedang-kuat seperti Ultisol (Podsolik dan Latosol) adalah hidrolisis Al ini,
yang menghasilkan pH antara 4,0 – 5,5.
Pada
daerah tettentu, seperti di daerah perawaan kandungan Al sangat tinggi sehingga
berpotensi besar dalam meracuni tanaman. Upaya untuk menurunkan tingkat
kemasaman tanah melalui pengapuran dapat dilakukan apabila tingkat kejenuhan Al
tanah lebih dari 60% dan kelarutannya juga tinggi hingga ke tingkat toksik bagi
tanaman. Metode ini bertujuan untuk menetralisasi potensi toksik dari unsur
ini, dengan kebutuhan kapur umumnya setara 1,5 x Alddsehingga setiap
1 me Alldddalam tanah membutuhkan kapur setara 1,5 me kapur. Jika
kapur yang digunakan adalah kalsit (CaCO : BM (berat molekul) = 40 + 12
+ 3(6) = 100, valensi Ca = 2, maka dibutuhkan:
1 me
Aldd + 1,5 me CaCO3 = 75 mg CaCO3/
100gram tanah
Untuk 1 Ha (2.000.000 kg/ha dengan asumsi BI = 1 dan tebal
lapisan olah tanah 20 cm) = 750 gram x 2.000.000) = 1,5 ton CaCO3/Ha
tanah. Takaran ini dapat dikurangi sesuai dengan tebal lapisan olah dan
efektifitas areal pertakaran. Kebutuhan nyata kapur juga dipengaruhi oleh derajat
netralisasi atau tingkat kehalusan (kemudahan untuk melarut) bahan kapur, makin
tinggi derajat netalisai atau tingkat kehalusan (kemudahan untuk melarut) bahan
kapur, maka semakin sedikit kebutuhannya, namun efeknya kapur akan semakin
cepat habis (Hanafiah 2010).
Proses
pengapuran menghasilkan ion-ion hidroksil yang mengikat kation-kation asam (Al
dan H) pada koloid menjadi inaktif, sehingga pH naik. Situs muatan negatif
koloid digantikan oleh kation basa (Ca), sehingga kejenuhan basa meningkat
pula. Meski dalam reaksi ini dihasilkan 2 molekul asam karbonat, tetapi karena
asam lemah, asam ini segara terurai menjadi air dan gas karbondioksida yang
menguap ke udara (Hanafiah 2010).
Unsur
Al merupan unsur yang paling berbahaya bagi tanaman, hal ini disebabkan oleh
sifat toksiknya yang dapat mengganggu atau menghabat unsur hara lain yang
dibutuhkan oleh tanaman. Unsur Al akan bersifat racun apabila berada di tanah
yang memiliki pH dibawah 5,0, di dalam tanah masam ini Al dapat menjerat unsur
hara penting seperti P dan Ca.
Berikut
masalah yang di akibatkan oleh keberadaan unsur Al yang bersifat racun pada pH
0,5 :
1. Gejala pada daun
Tanaman
yang mengalami keracunan Aluminium tidak mudah untuk diidentifikasi gejalanya,
akan tetapi Al ini berpengaruh terhadap ketersediaan unsur hara lain yang
dibutuhkan oleh tanaman. Unsur Al pada tanah yang memiliki pH <5,0 dapat
mengikat unsur P sehingga tanaman mengalami defisiensi hara posfor yang
mengakibatkan daun tanaman berukuran lebih kecil dari normalnya, selain itu
daun berwarna hijau gelap, urat daun menguning dan akhirnya keseluruhan daun
menguning (terutama pada ujung daun) kemudian gugur.Gejala kekurangan fosfor
pada daun Jagung (Zea mayz) ditandai dengan warna bagian bawah daun
terutama tulang daun merah keunguan, daun melengkung, dan terpelintir
(distorsi) serta tepi daun, cabang dan batangnya juga berwarna ungu.
Keracunan
Al juga menyebabkan tanaman mengalami defisiensi unsur hara kalsium (Ca) yang
mengakibatkan pertumbuhan titik tumbuh daun terhenti, tepi daun mengalami
klorosis, dan daun muda pada tanaman terlihat keriting atau
menggulung. Selain menyebabkan unsur hara P dan Ca terjerat,
kelebihan Al juga dapat menyebabkan tanaman mengalami defisiensi unsur Fe
sehingga menyebabkan daun muda berwarna kuning, pertumbuhan tanaman terhambat,
daun berguguran dan mati pucuk, tulang daun yang berwarna hijau berubah
kekuningan kemudian memutih, dan pertumbuhan tanaman seperti terhenti.
Berikut
beberapa gambar daun yang mengalami defisiensi hara akibat dari keracunan Al :
2. Gejala pada akar
Aluminium
( Al ) akan bersifat phytotoxic dalam bentuk Al3+ ketika
dilarutkan ke dalam tanah asam. Salah satu gejala awal dan berbeda dari
toksisitas Al3 + adalah penghambatan pemanjangan akar sebab
hormon auksinnya terhambat.
Tanah
yang memiliki pH rendah (<5,0) menyebabkan jumlah Al berlimpah, sehingga
unsur hara lain tidak dapat diserap dengan baik oleh dinding sel pada ujung
akar, akibatnya mengalami pembesaran, sel-selnya mengalami kerusakan, dan tidak
memiliki sistem percabangan yang baik.Pembesaran pada akar ini mengakibatkan
akar mengalami pembusukan, sebab air beserta unsur hara pada
tanah tidak dapat diserap oleh akardengan baik.
Jumlah
Al yang meningkat mengakibatkan tanaman mengalami defisiensi unsur hara Ca, P,
Mg dan air. Secara fisiologis, sifat toksik dari Al dapat mengganggu pembelahan
sel dalam akar tanaman, menurunkan laju respirasi pada akar,
mengganggu enzim tertentu yang mengatur pengendapan polisakarida dalam dinding
sel, meningkatkan kekakuan dinding sel (pektin silang), mengganggu
proses penyerapan dan transportasi unsur hara.
Foy [ 64 ] melaporkan bahwa aluminium mengganggupembelahan sel dalam ujung akar
dan akar lateral, kekakuan dinding sel meningkat oleh silang pektin ,
danmengurangi replikasi DNA dengan meningkatkan kekakuandouble helix.
Keracunan
Al bagi tanaman tergantung pada pH tanah dan berbagai faktor lainnya,seperti
jumlah mineral lempung dominan, jumlah bahan organik, konsentrasi kation ,
anion, jumlah garam , dan spesies tanaman.
3.Efek pada fisiologi dan morfologi tanaman
Tanaman muda lebih rentan terhadap Al daripada
tanaman yang lebih tua, sebab Al mengganggu pembelahan sel dalam tanaman yakni
dengan mengikat fosfor dalam bentuk kurang tersediadalam tanah atau pada akar
tanaman, menurunkan laju respirasi akar, mengganggu enzim tertentu yang
mengaturpengendapan polisakarida dalam dinding sel, meningkatkan kekakuan
dinding sel ( pektin silang )dan mengganggu penyerapan nutrisi penting
seperti Ca , Mg , K , P dan air.
Pada
prinsipnya ada 4 masalah aktual utama pada tanah masam yaitu rendahnya kadar
bahan organik tanah dan kadar unsur hara, dangkalnya perakaran tanaman,
kekeringan, gangguan gulma alang-alang (Imperata cylindrica) serta diperparah
oleh erosi dan pencucian unsur hara. Masalah-masalah tersebut ini
seringkali menyulitkan suatu usaha tani untuk mencapai produksi yang tinggi
secara berkelanjutan. Tingkat produksi yang tinggi dapat dicapai melalui
berbagai upaya yang dapat mempertahankan kesuburan tanah yakni dengan penerapan
sistem pengelolaan yang tepat.
Salah
satu cara pengelolaan yang terbukti dapat mempertahankan kesuburan tanah-tanah
masam adalah dengan menanam tanaman tahunan (pepohonan) bersama-sama dengan
tanaman semusim dalam sebidang lahan yang sama (kebun campuran). Upaya-upaya
pemecahan masalah yang ditujukan untuk mendapat produksi yang tinggi secara
berkelanjutan seharusnya dilakukan tanpa mengakibatkan kerusakan (degradasi)
pada sumberdaya lahan. Dalam hal ini perlu diperhatikan fungsi tanah sebagai
media tumbuh tanaman dan fungsi tanaman dalam meminimalkan kehilangan tanah,
air dan hara.
Beberapa cara untuk
mengurangi resiko keracunan Alyaitu:
1. Mengembangkan
varietas tanaman yang tahan terhadap ion logam.
Untuk mengantisipasi
keracunan Al, pengembangan tanaman yang tolerans terhadap tanah masam adalah
salah satu cara untukmengurangi efek berbahaya dari paparan ion logam yang
berlebihan. Cara ini dilakukan melalui pemuliaan tanaman dengan cara mengubah
sifat genetiknya. Akan tetapi cara ini memerlukan dana yang besar dalam
penelitiannya karena memerlukan peralatan dan tempat khusus.
2. Pengapuran
Umumnya, pengapuran dilakukan pada saat
penyiapan lahan tanam yang memiliki pH <5 atau 5,5. Tujuan dari pengapuran
yaitu menaikkan pH tanah, nilai pH tanah dinaikkan sampai pada tingkat
mana Al tidak bersifat racun lagi bagi tanaman dan unsur hara tersedia dalam
kondisi yang seimbang di dalam tanah. Peningkatan pH tanah yang terjadi sebagai
akibat dari pemberian kapur, tidak dapat bertahan lama, karena tanah mempunyai
sistem penyangga, yang menyebabkan pH akan kembali ke nilai semula setelah
beberapa waktu berselang.
Dalam menetralisir Al yang meracuni
tanaman karena unsur Ca bersifat tidak mudah bergerak, kapur harus dibenamkan
sampai mencapai kedalaman lapisan tanah yang mempunyai konsentrasi Al tinggi.
Hal ini agak sulit dilakukan di lapangan, karena dibutuhkan tenaga dalam jumlah
banyak dan menimbulkan masalah baru yaitu pemadatan tanah. Alternatif lain
adalah menambahkan dolomit (Ca, Mg(CO3)2) yang lebih mudah bergerak, sehingga
mampu mencapai lapisan tanah bawah dan menetralkan Al. Pemberian kapur seperti
ini memerlukan pertimbangan yang seksama mengingat pemberian Ca dan Mg akan
mengganggu keseimbangan unsur lain. Tanaman dapat tumbuh baik, jika
terdapat nisbah Ca/Mg/K yang tepat di dalam tanah. Penambahan Ca atau Mg
seringkali malah mengakibatkan tanaman menunjukkan gejala kekurangan K,
walaupun jumlah K sebenarnya sudah cukup di dalam tanah. Masalah ini menjadi
semakin sulit dipecahkan, jika pada awalnya sudah terjadi kahat unsur K pada
tanah tersebut.
3. Pemupukan
Menambahkan
bahan organik tanah merupakan jalan termudah dan tercepat dalam menangani
masalah kahat hara, namun bila kurang memperhatikan kaidah-kaidah pemupukan,
pupuk yang diberikan juga akan hilang percuma. Pada saat ini sudah diketahui
secara luas bahwa tanah-tanah pertanian di Indonesia terutama tanah masam kahat
unsur nitrogen (N), fosfor (P) dan kalium (K). Oleh karena itu petani biasanya
memberikan pupuk N, P, K secara sendiri-sendiri atau kombinasi dari ketiganya.
Pupuk N mudah teroksidasi, sehingga cepat menguap atau tercuci sebelum
tanaman menyerap seluruhnya. Pupuk P diperlukan dalam jumlah banyak karena
selain untuk memenuhi kebutuhan tanaman juga untuk menutup kompleks pertukaran
mineral tanah agar selalu dapat tersedia dalam larutan tanah.
Pemupukan
K atau unsur hara lain dalam bentuk kation, akan banyak yang hilang kalau
diberikan sekaligus, karena tanah masam hanya mempunyai daya ikat kation yang
sangat terbatas (nilai KTK tanah-tanah masam umumnya sangat rendah). Unsur hara
yang diberikan dalam bentuk kation mudah sekali tercuci.
IV. SIMPULAN
Unsur
Al merupakan unsur yang umumnya bersifat racun apabila berada di tanah yang
memiliki pH <5. Sifat racun dari Al ini dapat mengikat unsur hara lain yang
diperlukan oleh tanaman seperti P, Ca, K, dan Fe sehingga tanaman mengalami
defisiensi hara yang berdampak pada tidak optimalnya pertumbuhan dan
perkembangan tanaman.
Al
berada di tanah yang masam, sehingga untuk menetralisisnya pH tanah harus
dinaikkan dengan cara pengapuran, pemupukan, dan pengembangan varietas baru
yang tahan hidup di tanah masam.
DAFTAR PUSTAKA
Jianli Yang, dkk., 2006. Citrate
Transporters Play a Critical Role in Aluminium-stimulated Citrate Efflux in
Rice Bean (Vigna umbellata) Roots. China:
University, Hangzhou.
Hanafiah, Kemas Ali. 2010. Dasar-dasar Ilmu
Tanah. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sun P. Tian Q.Y. Chen Jand Zhang W.H.2010.Aluminium-induced
inhibition of root elongation in Arabidopsis is mediated by ethylene and auxin.
Journal of Experimental Botany, Vol. 61.
U. M. Wahjudin. 2006. Pengaruh Pemberian
Kapur dan Kompos Sisa Tanaman terhadap Aluminium Dapat Ditukar dan Produksi
Tanaman Kedelai pada Tanah Vertic Hapludultdari Gajrug, Banten. citation.itb.ac.id (Diakses pada 28
Maret 2015).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar